Kamis, 13 Desember 2012

Ring! Ring! Ring! ~Mami Sasazaki side


Aku menatap layar handphoneku sekali lagi. Ada sebuah pesan disana.
"Mami-kitty, ketemuan yuk?", begitu bunyinya.
Aku mendengus agak kesal. Orang aneh.
"Mami, sedang apa? kenapa diam disitu?", Haruna,sang leader band memanggilku dari dalam ruang rekaman.
"Sebentar." jawabku.

Haruskah kubalas? Atau kuabaikan saja? Sebenarnya aku bisa saja tidak perduli. Toh, aku memang sibuk dan tak bisa menemuinya sekarang. Tapi sedikit rasa iba merasuki hatiku. Kasihan, dia sudah capek-capek mau sms. Kugaruk kepalaku yang tak gatal. Untuk apa aku perduli? Dia bukan siapa-siapaku. Kumatikan handphone-ku, lalu bergegas masuk ke ruang studio.
***
"Mami-san, itu temanmu?", tanya Rina, drummer sekaligus anggota band termuda di band SCANDAL.
"Yang mana?", aku menoleh ke arah Rina yang menunjuk ke arah gerbang studio.
DIA DISINI???? Aku hampir tak percaya ketika melihat sosok pria berpenampilan serampangan dan agak kurang rapi itu berdiri dengan santainya.
"Mami sudah punya pacar yaaa?", goda Rina lagi sambil menyeringai kecil padaku.
Pacar? Huh. Tidak. "Bukan. Aku tidak kenal dia.", kataku seadanya.
Berbohong? Tidak juga. Dia yang mulai. Aku membuang muka.

***
"Jahatnya, aku diacuhkan..", katanya manja.
Sepulangnya latihan tadi, aku menemuinya. Tentu saja tanpa sepengetahuan yang lain.
Aku mengajaknya ke sebuah cafe di dekat studio.
Kencan?
Tidak tahu. Yang jelas dia sudah susah payah mau menemuiku.
"Mau apa? Sampai datang ke studio. Jangan membuatku malu.", cetusku.
"Galaknya.", dia tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut panjangku.
"Hei! Siapa yang memperbolehkanmu menyentuhku???", protesku.
"Kenapa? Tak suka? Hahaha... Mami-kitty-ku memang manis sekali"
Dia tertawa. Lebar. Lepas.
Saat itu,, dia terlihat sangat berkilauan di mataku.
Hei, tunggu! Tidak! Aku tidak boleh berpikiran lebih dari ini! Dia bukan tipeku!
***
"Mami, akhir-akhir ini sering pulang belakangan, ada apa?", Haruna bertanya dengan tatapan menyelidik.
"Mami-san sudah punya pacar. Hihihi..", timpal Rina.
Wajahku memerah. Tapi entah kenapa aku tak bisa menjawab.
"Laki-laki yang kemarin ya?", Tomomi, si gitaris merangkul pundakku.
"Tidak. Tidak seperti yang kalian pikirkan. Dia bukan tipeku.", aku berusaha mengelak.
Jujur saja, ada perasaan perih saat aku mengatakannya.
***
"Sudah tidur?", kuketikkan pesan itu di layar handphoneku. Sudah pukul 11 malam. Dan aku tak bisa tidur. Biasanya, dia belum tidur. Dengan dada berdebar, kuberanikan diri mengirimkan pesanku padanya. Berharap dia akan segera membalasnya.
Dan benar saja, kurang dari 2 menit handphoneku berdering. Bukan sms, tapi..
Telepon?
Satu bagian dari hatiku terasa meloncat-loncat tak karuan.
Aku.. Berdebar-debar?

"Kenapa? Tak bisa tidur lagi?", tanyanya.
"Begitulah."
Perbincangan itu berlanjut sampai jam dindingku menunjukan pukul 3 pagi.
"Tidurlah." katanya.
"Kau itu orang sibuk. Lagipula aku tak mau Mami-kitty-ku sakit karena kurang tidur."
"Gombal!", dengan cepat kututup teleponnya.
Sedikit perasaan tenang memenuhi hatiku setelah mendengar suaranya.

Sesaat, aku terkenang saat pertama kali kami saling mengenal.
Saat itu, aku sedang melepas lelah di sebuah taman setelah melakukan acara LIVE. Haruna dan yang lainnya masih sibuk dengan peralatan band, sedangkan aku duduk menyendiri. Menatap langit musim panas yang begitu biru.
Saat itulah dia datang.
Laki-laki yang mengenakan denim. Laki-laki yang penampilannya "maksa".
Laki-laki yang sepertinya hanya ikut-ikutan mode, datang menghampiriku.
Aku menatapnya sebentar. Lalu membuang muka.
"Baru LIVE ya?", tanyanya tiba-tiba. Fans? pikirku.
"Iya. Kau menonton kami? Terima kasih banyak." ucapku seadanya.
"Iya. Lagumu bagus."
"Terima kasih. Maaf, aku harus kembali ke panggung.", kataku beralasan.
Aku agak tidak suka penampilan laki-laki ini. Serampangan.
"Ehh.. Tunggu. Boleh minta nomor handphonemu?", dia meraih lenganku.
"Kau mau kuhajar?", tanyaku sambil mengepalkan tanganku. Lenganku lumayan besar, cukup kuat untuk meninjunya.
"Maaf.. Tapi bolehkan?", tanyanya memelas.
"Tidak.", cetusku sambil meninggalkannya sendirian.

Dan entah kenapa, sejak saat itu, ia sering sekali menemuiku selesai LIVE. Dia selalu ada setiap kali SCANDAL melakukan acara LIVE.
Hingga suatu ketika, aku memutuskan memberikannya nomor handphone-ku.
Tanpa dasar apa pun. Kasihan? Tidak. Hanya saja aku terkesan, dia sudah berusaha untuk mendapatkannya.
Sejak saat itu, setiap malam dia selalu mengirimiku kata-kata manis.
Seolah menegaskan, kalau dia menyukaiku. Tapi pesannya tak pernah kubalas, mengingat aku sendiri sibuk dengan band-ku.
Hanya suatu kebodohan saat tak sengaja aku membalas pesannya dengan pesan kosong. Dia mengira itu sebuah sinyal kalau aku merespon perasaannya, dan sejak saat itu dia mulai mengisi kekosongan hatiku.
***
"Sekali lagi, DIA BUKAN PACARKU !!!", sedikit kesal aku keluar dari studio, diiringi pandangan keheranan dari personil band lainnya.
"Kenapa?", tanya Haruna sambil menatap Rina yang masih melongo.
"Tidak tahu, tadi Mami-san tiba-tiba berteriak sendiri."

Aku menendang bak sampah plastik yang ada di belakang pintu keluar.
"Kenapa aku malah memikirkanmu semalaman. Mami, kamu idiot! Dia bukan tipemu!", aku berusaha menyadarkan diriku sendiri.
Satu sisi dariku terasa sangat sedih. Semua berawal tadi pagi, saat kebodohanku datang. Karena kejadian tadi malam, aku bermaksud meneleponnya untuk berterimakasih.
Tetapi yang kudapatkan malah sikap yang berbeda dari sikapnya sebelumnya.
"Tidak usah mengurusiku.", begitu katanya. Dia juga langsung menutup telepon tanpa perduli aku masih ingin bicara padanya.
Laki-laki macam apa dia?!
Aku mendengus kesal sambil duduk lunglai di lantai. Pusing, muak dan kesal terasa memenuhi kepalaku.
Dia memang bukan siapa-siapaku, tapi kenapa aku sebegini kesalnya?
Aku masuk lagi ke ruang studio, tanpa perduli dengan tatapan teman-temanku yang sepertinya masih bingung.
***
Malam ini, aku tak bisa tertidur lagi.
Kupandangi langit yang penuh dengan bintang. Dadaku terasa sesak sekali. Aku sangat ingin bicara dengannya. Aku memandangi handphoneku. Tidak berdering sejak tadi. Rasanya ada yang kurang. Rasanya ada yang tidak melengkapi hariku. Handphone-ku berderinglah.. Bawalah pesan darinya..
Aku memohon dalam hati.

Lama sekali aku memohon seperti itu sampai aku lelah dan menyerah. Aku tak sanggup lagi.  Baiklah, aku tak mau seperti ini. Dengan cepat kugenggam kuat handphone-ku, tak perduli mau seperti apa jadinya aku hanya ingin berusaha. Untuk sesuatu yang mengganjal hatiku.

"Halo?", sahut suara di seberang sana.
Dadaku tercekat. Entah kenapa aku lega sekali setelah mendengar suaranya.
"Mami-kitty?", suara itu terdengar sangat menyejukan untukku. Pandanganku kabur, aku tercekat. Suaraku bahkan tak bisa keluar.
Cepat-cepat kututup teleponku.
Ya, perasaan yang baru saja kusadari sekarang.

"Aku menyukaimu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar