Aku menatap layar
handphoneku sekali lagi. Ada sebuah pesan disana.
"Mami-kitty,
ketemuan yuk?", begitu bunyinya.
Aku mendengus agak
kesal. Orang aneh.
"Mami, sedang apa?
kenapa diam disitu?", Haruna,sang leader band memanggilku dari dalam ruang
rekaman.
"Sebentar."
jawabku.
Haruskah kubalas? Atau
kuabaikan saja? Sebenarnya aku bisa saja tidak perduli. Toh, aku memang sibuk
dan tak bisa menemuinya sekarang. Tapi sedikit rasa iba merasuki hatiku. Kasihan,
dia sudah capek-capek mau sms. Kugaruk kepalaku yang tak gatal. Untuk apa aku
perduli? Dia bukan siapa-siapaku. Kumatikan handphone-ku, lalu bergegas masuk
ke ruang studio.
***
"Mami-san, itu
temanmu?", tanya Rina, drummer sekaligus anggota band termuda di band
SCANDAL.
"Yang mana?",
aku menoleh ke arah Rina yang menunjuk ke arah gerbang studio.
DIA DISINI???? Aku
hampir tak percaya ketika melihat sosok pria berpenampilan serampangan dan agak
kurang rapi itu berdiri dengan santainya.
"Mami sudah punya
pacar yaaa?", goda Rina lagi sambil menyeringai kecil padaku.
Pacar? Huh. Tidak.
"Bukan. Aku tidak kenal dia.", kataku seadanya.
Berbohong? Tidak juga.
Dia yang mulai. Aku membuang muka.
***
"Jahatnya, aku
diacuhkan..", katanya manja.
Sepulangnya latihan
tadi, aku menemuinya. Tentu saja tanpa sepengetahuan yang lain.
Aku mengajaknya ke
sebuah cafe di dekat studio.
Kencan?
Tidak tahu. Yang jelas
dia sudah susah payah mau menemuiku.
"Mau apa? Sampai
datang ke studio. Jangan membuatku malu.", cetusku.
"Galaknya.", dia
tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut panjangku.
"Hei! Siapa yang
memperbolehkanmu menyentuhku???", protesku.
"Kenapa? Tak suka?
Hahaha... Mami-kitty-ku memang manis sekali"
Dia tertawa. Lebar.
Lepas.
Saat itu,, dia terlihat
sangat berkilauan di mataku.
Hei, tunggu! Tidak! Aku
tidak boleh berpikiran lebih dari ini! Dia bukan tipeku!
***
"Mami, akhir-akhir
ini sering pulang belakangan, ada apa?", Haruna bertanya dengan tatapan
menyelidik.
"Mami-san sudah
punya pacar. Hihihi..", timpal Rina.
Wajahku memerah. Tapi
entah kenapa aku tak bisa menjawab.
"Laki-laki yang
kemarin ya?", Tomomi, si gitaris merangkul pundakku.
"Tidak. Tidak
seperti yang kalian pikirkan. Dia bukan tipeku.", aku berusaha mengelak.
Jujur saja, ada
perasaan perih saat aku mengatakannya.
***
"Sudah
tidur?", kuketikkan pesan itu di layar handphoneku. Sudah pukul 11 malam.
Dan aku tak bisa tidur. Biasanya, dia belum tidur. Dengan dada berdebar,
kuberanikan diri mengirimkan pesanku padanya. Berharap dia akan segera
membalasnya.
Dan benar saja, kurang
dari 2 menit handphoneku berdering. Bukan sms, tapi..
Telepon?
Satu bagian dari hatiku
terasa meloncat-loncat tak karuan.
Aku.. Berdebar-debar?
"Kenapa? Tak bisa
tidur lagi?", tanyanya.
"Begitulah."
Perbincangan itu
berlanjut sampai jam dindingku menunjukan pukul 3 pagi.
"Tidurlah."
katanya.
"Kau itu orang
sibuk. Lagipula aku tak mau Mami-kitty-ku sakit karena kurang tidur."
"Gombal!",
dengan cepat kututup teleponnya.
Sedikit perasaan tenang
memenuhi hatiku setelah mendengar suaranya.
Sesaat, aku terkenang
saat pertama kali kami saling mengenal.
Saat itu, aku sedang
melepas lelah di sebuah taman setelah melakukan acara LIVE. Haruna dan yang
lainnya masih sibuk dengan peralatan band, sedangkan aku duduk menyendiri.
Menatap langit musim panas yang begitu biru.
Saat itulah dia datang.
Laki-laki yang
mengenakan denim. Laki-laki yang penampilannya "maksa".
Laki-laki yang
sepertinya hanya ikut-ikutan mode, datang menghampiriku.
Aku menatapnya
sebentar. Lalu membuang muka.
"Baru LIVE
ya?", tanyanya tiba-tiba. Fans? pikirku.
"Iya. Kau menonton
kami? Terima kasih banyak." ucapku seadanya.
"Iya. Lagumu
bagus."
"Terima kasih.
Maaf, aku harus kembali ke panggung.", kataku beralasan.
Aku agak tidak suka
penampilan laki-laki ini. Serampangan.
"Ehh.. Tunggu. Boleh
minta nomor handphonemu?", dia meraih lenganku.
"Kau mau
kuhajar?", tanyaku sambil mengepalkan tanganku. Lenganku lumayan besar,
cukup kuat untuk meninjunya.
"Maaf.. Tapi
bolehkan?", tanyanya memelas.
"Tidak.",
cetusku sambil meninggalkannya sendirian.
Dan entah kenapa, sejak
saat itu, ia sering sekali menemuiku selesai LIVE. Dia selalu ada setiap kali
SCANDAL melakukan acara LIVE.
Hingga suatu ketika,
aku memutuskan memberikannya nomor handphone-ku.
Tanpa dasar apa pun.
Kasihan? Tidak. Hanya saja aku terkesan, dia sudah berusaha untuk
mendapatkannya.
Sejak saat itu, setiap
malam dia selalu mengirimiku kata-kata manis.
Seolah menegaskan,
kalau dia menyukaiku. Tapi pesannya tak pernah kubalas, mengingat aku sendiri
sibuk dengan band-ku.
Hanya suatu kebodohan
saat tak sengaja aku membalas pesannya dengan pesan kosong. Dia mengira itu
sebuah sinyal kalau aku merespon perasaannya, dan sejak saat itu dia mulai
mengisi kekosongan hatiku.
***
"Sekali lagi, DIA
BUKAN PACARKU !!!", sedikit kesal aku keluar dari studio, diiringi
pandangan keheranan dari personil band lainnya.
"Kenapa?",
tanya Haruna sambil menatap Rina yang masih melongo.
"Tidak tahu, tadi
Mami-san tiba-tiba berteriak sendiri."
Aku menendang bak
sampah plastik yang ada di belakang pintu keluar.
"Kenapa aku malah
memikirkanmu semalaman. Mami, kamu idiot! Dia bukan tipemu!", aku berusaha
menyadarkan diriku sendiri.
Satu sisi dariku terasa
sangat sedih. Semua berawal tadi pagi, saat kebodohanku datang. Karena kejadian
tadi malam, aku bermaksud meneleponnya untuk berterimakasih.
Tetapi yang kudapatkan
malah sikap yang berbeda dari sikapnya sebelumnya.
"Tidak usah
mengurusiku.", begitu katanya. Dia juga langsung menutup telepon tanpa
perduli aku masih ingin bicara padanya.
Laki-laki macam apa
dia?!
Aku mendengus kesal
sambil duduk lunglai di lantai. Pusing, muak dan kesal terasa memenuhi
kepalaku.
Dia memang bukan
siapa-siapaku, tapi kenapa aku sebegini kesalnya?
Aku masuk lagi ke ruang
studio, tanpa perduli dengan tatapan teman-temanku yang sepertinya masih
bingung.
***
Malam ini, aku tak bisa
tertidur lagi.
Kupandangi langit yang
penuh dengan bintang. Dadaku terasa sesak sekali. Aku sangat ingin bicara
dengannya. Aku memandangi handphoneku. Tidak berdering sejak tadi. Rasanya ada
yang kurang. Rasanya ada yang tidak melengkapi hariku. Handphone-ku
berderinglah.. Bawalah pesan darinya..
Aku memohon dalam hati.
Lama sekali aku memohon
seperti itu sampai aku lelah dan menyerah. Aku tak sanggup lagi. Baiklah, aku tak mau seperti ini. Dengan
cepat kugenggam kuat handphone-ku, tak perduli mau seperti apa jadinya aku
hanya ingin berusaha. Untuk sesuatu yang mengganjal hatiku.
"Halo?",
sahut suara di seberang sana.
Dadaku tercekat. Entah
kenapa aku lega sekali setelah mendengar suaranya.
"Mami-kitty?",
suara itu terdengar sangat menyejukan untukku. Pandanganku kabur, aku tercekat.
Suaraku bahkan tak bisa keluar.
Cepat-cepat kututup
teleponku.
Ya, perasaan yang baru
saja kusadari sekarang.
"Aku
menyukaimu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar