Kamis, 13 Desember 2012

"Maiden's Pray"

Aku mengayuh sepedaku menuju ke sekolah, jalan masih sangat sepi, hanya terlihat 2 atau 3 orang yang berjalan di jalanan ini. Biasanya, dia menemaniku berangkat sekolah setiap pagi, bersepeda berdua denganku sambil menikmati udara pagi yang sejuk. Angin musim gugur terasa menusuk kulitku. Aku membetulkan syalku dan memacu sepedaku lebih cepat.
***
Setahun yang lalu, dia masih disini, setiap hari menemaniku. Setiap pagi, dia menjemputku, memanggil namaku dengan suaranya yang terdengar begitu jernih. Sejak kecil, kami sudah bersama. Dia adalah kakak tetangga yang sangat baik dan perhatian padaku. Karena kebetulan aku anak tunggal, dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Karena usia kami terpaut tidak begitu jauh, dia bisa mengerti keinginanku. Selebihnya, dia sangat melindungiku. Aku, terbiasa bersembunyi di balik punggungnya yang lebar, berusaha berlindung di balik tubuhnya. Dan karena terbiasa dengan hal itu, sangat sulit bagiku untuk bisa sendirian. Dia lebih dari apapun untukku. Suatu pukulan berat ketika bulan April tiba, dia memutuskan untuk melanjutkan studinya di Tokyo. Itu artinya, kami akan berpisah. Aku terdiam. Dadaku tercekat. Aku ingin menangis, tapi tak satupun air mataku keluar. Yang ada hanyalah hembusan angin yang membawa kelopak sakura yang baru saja mekar berjatuhan.

***
 “Setiap kenangan-kenangan yang ada, itu adalah sesuatu yang berharga.”, Dia membelai lembut rambut panjangku sambil tersenyum lembut. Aku mengangguk pelan, berusaha menguatkan hatiku walau sebenarnya aku sama sekali tidak bisa menerima semua ini. Terlalu berat untukku bisa berpisah denganmu, batinku. Yang tersisa di pikiranku hanyalah rasa takut akan kesepian yang akan menemaniku setelah ini. Aku mendekap kedua lututku ketika pagi menjelang, semalam aku bermimpi tentangnya. Aku memimpikan sosoknya yang perlahan-lahan menghilang. Seperti kabut di pagi hari. Kegelisahan dan rasa sepi yang kurasakan saat ini membuatku semakin tersiksa. Namun perlahan, aku sadar akan arti keberadaannya. Aku tidak harus selalu terpuruk dalam kesedihan seperti ini. Dia tentu tak ingin membuatku sedih akan tetapi kepergiannya seharusnya menjadi suatu fase pendewasaan untukku. Aku mengusap air mataku. Mulai besok, aku akan berusaha juga untuk dia disana.

 ***

Aku memandangi deretan pohon Sakura yang mekar penuh, artinya sudah satu tahun kepergian dirinya dari kota ini. Aku sudah kelas 3 sekarang, musim semi tahun depan aku akan lulus. Aku telah memutuskan untuk pergi menyusulnya. Selama ini aku sudah berusaha. Aku belajar dengan giat, agar aku diperbolehkan melanjutkan studi ke universitas yang sama dengannya. Aku bukan orang yang mudah menyerah, dan aku bukan orang yang mudah melupakan seseorang. Setiap waktu aku memikirkannya, menyemangati diriku dengan mengenang semua yang telah kulewati bersamanya. Aku mungkin masih merasa kesepian, akan tetapi saat teringat suara bening dari bibirnya yang memanggil namaku dengan lembut, rasa sepi itu pudar dan berganti dengan kehangatan suaranya. Suatu saat nanti, aku akan tinggal di kota yang sama dengannya, meskipun bukan disini. Dan untuk itu, aku harus tetap tinggal disini untuk belajar mendewasakan diriku. Musim semi tahun depan, saat diriku akan memakai seragam kelulusan, akan menjadi musim semi paling indah dalam hidupku. Di dalam hatiku aku selalu mendoakan dirinya yang berada jauh disana. Yang aku percaya, doa seorang gadis yang sedang jatuh cinta adalah doa paling kuat yang pernah ada. Doa yang akan selalu melindunginya dari jauh.. ~fin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar